|
Tas Rajutan Pikat Konsumen Dalam dan Luar Negeri |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Thursday, 04 March 2010 16:40 |
|
Tas Rajutan Pikat Konsumen Dalam dan Luar Negeri Denpasar (BisnisBali) – Tas rajutan baik itu dari benang wol maupun rajutan daun pandan, masih tetap memikat sebagai penambah penampilan bagi wanita. Bentuknya yang sederhana serta dikerjakan dengan tangan dan harganya yang terjangkau membuat tas tersebut menarik untuk dibeli. Lin, pemilik Armada Artshop di Jalan Gajah Mada No.19 Denpasar, belum lama ini mengungkapkan, tampilan tas yang dikerjakan secara manual dengan cara dirajut selama ini memiliki pangsa pasar cukup luas, bukan hanya di pasar lokal saja namun sudah merambah pasar mancanegara. Diungkapkan, untuk pangsa pasar lokal sendiri, tas rajutan yang berbahan wol serta pandan yang diproduksinya digemari kaum perempuan, baik remaja maupun ibu-ibu rumah tangga. Dikatakan, keunikan tampilan tas yang dipadukan dengan tali berbahan kayu tersebut selain harganya terjangkau juga memiliki desain serta warna yang beragam, ada merah putih serta warna-warni. Dengan harga yang ditawarkan berkisar Rp 25 ribu hingga Rp 35 ribu per pcs. Lebih jauh dikatakan, untuk tas berbahan pandan dengan ukuran kira-kira 60 cm dibandrol dengan harga Rp 25 ribu per pcs. Sementara tas rajutan wol harganya bervariasi tergantung ukurannya. ‘'Jika yang kecil berukuran dompet harganya Rp 10 ribu, untuk ukuran yang lebih besar lagi berkisar Rp 25 ribu, sedangkan yang berukuran paling besar kira-kira 40 cm x 50 cm harganya Rp 35 ribu,” ujarnya. Diungkapkan, pengerjaan tas anyaman tersebut dilakukan secara manual dengan menggunakan alat rajut serta mesin jahit. Selama ini, pihaknya mampu mengerjakan 20 tas rajutan tiap hari, meskipun dengan tenaga kerja terbatas. ‘'Untuk mengerjakan tas-tas tersebut saya tidak memiliki tempat khusus, namun saya bawa ke perajin-perajin saya, yang selanjutnya dikerjakan di rumah mereka,” ujarnya. Disinggung mengenai permintaannya, ditambahkan, dalam sehari permintaan tas tersebut berkisar 15-20 pcs, untuk tas rajutan wol dan 10 pcs per hari untuk tas rajutan pandan. ‘'Dengan harga terjangkau, tas-tas rajutan tersebut saya akan tetap diminati pasar. Apalagi saat ini persaingan tas-tas rajutan sangat ketat saat ini,” imbuhnya. *dwi |
|
Tas Daun Pandan Bordir Laris di Pasar Ekspor |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Monday, 09 November 2009 07:25 |
|
Gianyar (BisnisBali) - Dalam menghadapi persaingan yang ketat antaraneka produk kerajinan seni yang dibuat dari bahan baku natural, perajin dituntut jeli membaca selera konsumen serta peluang pasar yang ada. Salah satu kerajinan tas yang dibuat dari bahan natural daun pandan yang dikombinasikan dengan bordiran, terbukti sekarang ini mampu merebut pasar sekaligus disukai banyak konsumen dalam maupun luar negeri. Ni Nyoman Wenten, perajin pemilik Bona Lontar di Jl.Raya Bona Gianyar, Jumat (6/11) kemarin, menuturkan, kerajinan tas anyaman dari daun pandan masih memiliki daya pikat yang tinggi bagi konsumen dalam maupun luar negeri. Ini terbukti permintaan kerajinan tersebut, meski menghadapi krisis keuangan global tetap ramai. Terutamanya yang datang dari konsumen mancanegara asal Italia dan Perancis, yang memesannya di atas 1.000 pcs per bulan. Bahkan, sekarang cenderung bertambah banyak lagi dengan adanya kerajinan tas daun pandan yang dikombinasikan dengan bordiran. Kerajinan tas kombinasi dengan bordiran ini, tergolong masih baru dimata konsumen. Begitu mulai diperjualbelikan di toko seni yang ada di Ubud, Sukawati dan objek wisata lainnya di daerah ini, tas daun pandan bordiran langsung mendapat respons yang positif dari konsumen. Ini terbukti, pengirimannya bertambah rata-rata 200 pcs per bulan. ‘'Tas daun pandan kombinasi dengan bordiran masih baru di mata konsumen sehingga, permintaannya dari pasar mancanegara, sampai sekarang ini ramai dan lancar saja,'' terang Wenten. Ia menambahkan, tas daun pandan bordiran umumnya berisi gambar atau lukisan serta tulisan Bali . Tas natural daun pandan kombinasi bordiran ini, dijual Rp 80.000 per set isi 2 pcs. Dijelaskan Wenten, tas anyaman dari daun pandan selama ini cukup favorit di mata konsumen mancanegara. Selain bentuk tas yang menarik dan indah, cocok dipakai saat kemana saja, baik belanja, kerja, kuliah dan lainnya. Di samping itu, tas daun pandan lebih lentur sifatnya dibanding tas anyaman dari daun lontar misalnya. Kondisi inilah yang mebuat konsumen lebih memilih tas daun pandan. *mur |
|
|
Permintaan Tas Berbahan Alami tak pernah Surut |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Monday, 07 December 2009 07:31 |
|
Permintaan Tas Berbahan Alami tak pernah Surut Denpasar (BisnisBali) – Kerajinan tas berbahan alami seperti rotan, ate , mendong, tempurung kelapa dan bambu ternyata memiliki pangsa pasar yang tak pernah surut. Dari pantauan BisnisBali ke sejumlah pusat penjualan suvenir khas Bali, terlihat beragam kreasi tas alami buatan perajin Bali diminati, terutama oleh pelancong dalam negeri. Salah satu pusat penjualan suvenir yang menjadi sasaran wisatawan domestik untuk berbelanja produk tas alami di pusat kota adalah, Pasar Kumbasari. Dari penuturan pedagang di sana , tas-tas cantik tersebut permintaannya bisa dibilang yang paling mendominasi. ‘'Pengunjung yang datang kemari selalu tertarik pada produk tas berbahan alami, baik tas jinjing atau jenis yang lain. Tas yang paling digemari masih yang terbuat dari bahan mendong dan ate ,” kata Sumarni, penjual kerajinan di pasar tersebut, Jumat (4/12) kemarin. Ia mengaku, meningkatnya angka kunjungan belakangan ini cukup mendongkrak penjualan tasnya. Dalam sehari mampu menjual 3 -5 tas berbagai jenis. Selain Sumarni, di pusat penjualan suvenir lainnya seperti di Erlangga yang terletak di ruas Jalan Raya Nusa Kambangan, juga menunjukan tingginya permintaan tas berbahan alami. Dengan hanya dibandrol harga Rp 25.000 sampai Rp 150.000 untuk yang berbahan ate , tas-tas tersebut menjadi incaran konsumen dari segala umur. Seperti yang disampaikan Indah, salah satu karyawan di toko grosir terbesar di kawasan tersebut, kalau tas berbahan alami tak hanya dicari wanita dewasa saja, remaja dan anak-anak pun menyukainya, terutama tas dari bahan tempurung kelapa yang bentuknya bulat, lucu dan sangat unik. Harga tas tempurung mulai Rp 20.000 – Rp 35.000. Ia mengaku, dalam sehari tas alami bisa laku terjual hingga ratusan pcs dari semua jenisnya. ‘'Sehari bisa terjual 100 – 150 pcs tas segala jenis,” kat dia. Dari pengakuan sejumlah pedagang, harga yang murah dan keunikan yang dimiliki produk berbahan alami membuat permintaannya tak pernah surut. Bahkan tak tanggung-tanggung satu orang pembeli bisa menawar 2 hingga 4 tas alami tersebut, terutama mereka yang berasal dari luar Bali untuk dijadikan oleh-oleh. Semua jenis kerajinan tas ini cukup mudah didapat, dengan mengandalkan suplayer langsung dari kawasan penghasil produk kerajinan seperti daerah Karangasem dan Klungkung stok barang menjadi tak pernah tersendat. Bahkan dari pengakuan Sumarni, beragam tas tersebut secara rutin didatangkan seminggu sekali. *ade Foto di layout sabtu hal 6, ist-tas alami TAS ROTAN – Tampak salah satu tas unik berbahan rotan yang permintaannya tak pernah surut. Contoh harga tas alami: Jenis tas Harga Tas mendong Rp 45.000 – Rp 60.000 Tas ate Rp 100.000 – Rp 145.000 Tas rotan Rp 50.000 – Rp 65.000 Tas tempurung kelapa Rp 20.000 – Rp 50.000 Tas bambu Rp 20.000 – Rp 35.000 |
|
Denpasar Town Festival'' l Lestarikan Warisan Budaya lewat Parade Endek |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Tuesday, 27 October 2009 07:33 |
'Denpasar Town Festival'' l Lestarikan Warisan Budaya lewat Parade Endek
Denpasar (BisnisBali) – Endek - the Beautiful Balinese Weaving - save our heritage, merupakan khasanah yang perlu secara terus menerus dikumandangkan.
Bukan hanya diucapkan, tetapi semua pihak ikut dan mampu meningkatkan dan mendorong produktivitas pelestarian budaya. Seperti, pelestarian kain endek. Endek hanya ada di Bali , walaupun beberapa daerah lainnya ikut meniru penampilan dan desain endek, tetapi sistem proses hanya ada di Bali , khususnya Denpasar.
Melalui Ketua Dekranas (Dewan Kerajinan Nasional) Kota Denpasar, Nyonya Wali Kota IA Selly Dharmawijaya terus melakukan pendampingan dan binaan terhadap perajin endek Denpasar. Bukan hanya melakukan dukungan produksi, tetapi masalah bahan dan sampai pemasaran terus ditingkatkan.
Denpasar merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Bali , dengan ciri khas warisan budaya yang memiliki keseimbangan dan pelestarian nilai sejarah. Di samping itu, meningkatkan pendapatan di bidang pariwisata dan perdagangan dalam pengembangan program ''sight seeing”.
Salah satu produk unggulan Kota Denpasar yang mendapat prioritas pemerintah melalui binaan Dekranas Kota Denpasar adalah produk tekstil dan industri, salah satunya keindahan tenun tradisional yang dikenal sebutan endek.
Guna meningkatkan berbagai produk unggulan berusaha secara terus menerus melestarikan warisan budaya melalui tagline “Selamatkan Warisan Budaya” sehingga salah satu produk seperti endek dapat menjadi ikon kerajinan tekstil untuk generasi mendatang.
Kabid Bina Usaha Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Denpasar, Made Saryawan yang didampingi Kasi Bina Usaha, Laxsmy Saraswathi, baru-baru ini, saat mensosialisasikan kegiatan ‘'Denpasar Town Festival 2009'' akhir Desember nanti. Sosialisasi yang dihadiri para desainer dan perajin endek se-Kota Denpasar di Aula Kantor Disperindag setempat.
Pada kesempatan itu, Saryawan mengatakan, pentingnya pagelaran berbagai event terkait pelestarian kerajinan yang kental dengan muatan budaya seperti warisan kain endek. Selain sistem pembuatannya konvesional, motif dan desainnya juga unik dan klasik.
Hanya saja, dalam pemasaran dan peningkatan desain masih memiliki kendala, sehingga pemerintah Denpasar bersama Dekranas Kota Denpasar terus berupaya untuk meningkatkan produktivitas kain endek. Salah satu cara selain melakukan berbagai pelatihan, workshop , seminar dan kegiatan lainnya semuanya itu akan diaktualisasikan pada berbagai pagelaran dengan kegiatan ‘'Denpasar Town Festival'' nanti pada akhir Desember 2009.
‘'Tekstil tradisional yang indah disebut endek atau umum di Bali kekunoan dan tekstil tradisional Bali dikenal sebagai endek atau endek sarung yang sering digunakan oleh keluarga bangsawan Bali tempo dulu. Nama endek mengacu kepada bentuk/pola teknik digunakan dalam pembuatan tekstil tradisional Bali .
Endek dalam kenyataannya berbeda dari proses ikat yang sudah dilakukan secara luas di seluruh Indonesia . Ikat yang berarti bundel atau mengikat dan endek memiliki pola di kain benang saja dengan bentuk yang lain dua ikat disebut geringsing . Geringsing yang ada di Tenganan telah melalui pembuatan teknik kuno serta telah dikuasai dan telah dilakukan berbabad-abad lamanya.
Bercermin dari kondisi keterbelakangan berkembangannya desain endek tersebut, pemerintah melalui Dekranas Denpasar berupaya melestarikan dan mengembangkan produk tekstil endek Denpasar.
Endek Denpasar memiliki desain yang spesial, salah satunya modifikasi dengan memadukan bordir di bagian ujung, hasil karya ini sudah dipatenkan sebagai Kain Endek Denpasar,'' kata Saryawan.
Seiring sejalan perkembangan produksi endek, memberikan i mage tersediri bagi konsumen. Pemeritah Kota Denpasar berusaha terus menerus melestarikan warisan budaya melalui pencanangan “Pelestarian Budaya Endek”.
Dengan memodifikasi kain endek sebagai pakaian resmi ataupun pakaian dengan model tren masa kini melalui pagelaran “parade endek” yang diselenggarakan tiap akhir tahun. Dengan melibatkan para desainer dan perajin endek binaan Dekranasda. * sta/*
|
|